Benakku menyentuhku dia berkata bahwa ia sungguh inginkan diriku menjerit tentang derita ditelinga penguasa. Namun hampir didetik yang sama, dia juga berbisik sesuatu yang menyakitkan. Dalam bisiknya ku dengar ”hai bodoh...pernahkah engkau bercermin siapa dirimu? engkau seharusnya tahu bahwa engkau jauh tak terlihat dibanding debu yang kecil yang beterbangan disekitar mereka.....lalu benakku tertawa keras hingga dia membangunkan semua lamunku tentang bagaimana memberitahukan tantang penderitaan yang dialami pertiwi.
Ternyata setelah ku fikirkan kembali ku sadar. Akan kepada penguasa yang mana ku ceritakan tentang resah yang menggangguku, tentang lambung jelata yang kulihat jarang sekali tersentuh sebutir nasi...kepada siapa ku harus ceritakan ya? apakah engkau tahu sobat? siapa nama penguasa yang bisa memahami jerit hatiku? siapa yang bisa mengerti tentang dunia yang ada dibalik hati para pencuri yang terpaksa menjadi pencuri karena dia adalah rakyat kecil yang tak bisa berbuat banyak karena haknya tercuri penguasa.
Haruskah ku ceritakan pada patung patung pejuang yang menyedihkan, yang sedang hormat menghormati kesibukan kota yang tak terhormat atau haruskah kubiarkan cerita ini menjadi satu lagi cerita yang harus hilang terbelenggu oleh ketidak mampuan mereka yang merindukan keadilan, kesejahteraan bagi seluruh rakyat dinegeri uang ini.
Negeri uang, mungkin kalian akan bertanya kenapa ku katakan negeri ini uang? Mungkin kalian juga akan bertanya apakah negeri ini bergelimangan uang dimana rakyat tak perlu mengemis untuk sesuap nasi, tak perlu mencuri untuk segelas susu anak bayinya yang menjerit berkata tunggu waktunya nanti andai kubesar ku akan mencuri dengan cara yang lebih terhormat dari yang dilakukan bapakku sekarang.
Negeri ini adalah negeri uang karena dinegeri ini semua bisa dibeli, baik itu pangkat jabatan bahkan keadilan bisa dibeli untuk menutupi ketidak adilan. Dengan kata lain siapa yang kaya dia bisa berbuat segalanya. Sebenarnya ada yang bisa mengalakan orang yang banyak uang yang bertangan kanan penguasa, kalian tahu apa itu? Ia adalah kepintaran. Namun percuma kepintaran juga bisa dibeli kok. Dengan sedikit uang bagi mereka yang kaya gelar apa aja bisa didapat tanpa susah berfikir dan bersekolah. Kenapa gelar itu bisa dibeli? Karena yang menjual gelar itu juga butuh uang, itu kata halusnya namun kata kasarnya adalah yang menjual gelar itu adalah orang yang menjual dirinya, keluarganya, saudaranya yang setanah air yang jauh membutuhkan uang dan juga negaranya. negara yang akan semakin hancur.
Ingat sila kelima pancasila yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”. Apakah kalian semua tahu sila yang satu ini ngak bakalan bisa terlaksana. Kalian tahu sebabnya? ini karena negara kita adalah negara uang. Bagaimana mau sejahtera setiap orang masing-masing menipu diri hanya untuk uang? Bagaimana mau sejahtera uang rakyat saja dicuri oleh para pemimpin mereka yang seharusnya melaksanakan janji yang telah diberikan sebelum terpilih, tapi bagaimana mau melaksanakan janijinya sebelum diangkat mereka telah menghabiskan banyak uang untuk bisa mendapat topeng kehormatan untuk menutupi segala keburukannya. Akhirnya janji terabaikan, nurani dimatikan yang penting uang banyak agar bisa mengembalikan modal dan berbuat segalanya dan berkuasa.
Ha...ha...ha...ha...percuma kuceritakan semuanya karena masalah negara ini terlanjur rumit, negara ini bisa berubah jika idiologinya bukan lagi uang. Hukumnya bukanlagi berdasar uang. Peraturannya bukan yang bisa dibeli, kesalahan menjadi kesalahan dan kebenaran ditegakkan. Namun untuk mewujudkan segalanya amat susah karena yang harus diubah bukan idiologi, undang-undang, peraturan namun yang harus dirubah segalanya dan yang terpenting adalah manusianya. Jika manusianya berdisiplin tinggi dia akan melaksanakan tanggung jawab dengan baik, jika manusianya bertanggung jawab maka dia akan melaksanakan tugas dengan baik.

0 komentar:
Posting Komentar